Powered By Blogger

Selasa, 03 September 2013

ULAMA YANG BAIK SEPERTI APA SIH..?

TANDA-TANDA ULAMA YG BAIK

Assalammu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...

Hasan rahimahullah berkata: ”Tersiksanya para ulama adalah kematian hati. Sedangkan kematian hati adalah mencari dunia dengan amal akhirat”.

Sahl rahimahullah berkata: “Ilmu seluruhnya adalah dunia kecuali pengamalannya. Sedangkan amal itu seluruhnya beterbangan (lenyap) kecuali amal yang ikhlas.

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali Imran:187)

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. (QS. Ali Imran:199)

“Barangsiapa yang menuntut ilmu dari apa yang untuk mencari keridlaan Allah Ta’ala itu untuk mencari harta benda dunia maka ia tidak mendapatkan bau syurga pada hari Kiyamat”. [HR. Abu Dawud, Ibn Majah]

Saudaraku...

“Ulama umat ini ada dua orang yaitu seseorang yang dikarunia ilmu oleh Allah lalu ia memberikannya kepada manusia dan ia tidak mengambil ketamakan (kelobaan) atasnya, dan ia tidak membeli (menukar) harga dengannya. Itulah orang yang dimohonkan rahmat oleh burung di udara, ikan di air, binatang bumi dan para malaikat yang mulia yang mencatat. Pada hari Kiyamat ia diajukan kepada Allah sebagai orang yang mulia sehingga ia menemani para rasul. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah di dunia lalu ia kikir terhadap hamba Allah, dan ia mengambil atasnya dengan kelobaan dan ia membeli (menukar) harga dengannya. Orang itu pada hari Kiyamat akan dikenakan kendali dengan kendali dari api. Seorang penyeru menyeru di atas makhluk, ”Ini Fulan bin Fulan di dunia diberi ilmu oleh Allah lalu ia kikir atas para hamba-Nya, ia mengambilnya dengan kelobaan dan ia membeli (menukar) harga dengannya, maka ia disiksa sehingga selesai perhitungan (amal) manusia”. [at Tabhrani]Janganlah kamu duduk di sisi orang ‘alim kecuali orang ‘alim yang mengajakmu dari lima macam kepada lima macam, yaitu dari keraguan kepada keyakinan, dari riya’ kepada ikhlas, dari gemar (kepada dunia) kepada zuhud, dari kesombongan kepada merendahkan diri, dan dari permusuhan kepada nasihat. [HR. Abu Nuaim dan Ibnul Jauzi]

Saudaraku...

Sebagian ulama ada yang menyimpan ilmunya maka ia tidak senang ilmu itu didapat pada orang lain, itulah orang yang di tingkatan pertama dari neraka.

Sebagian ulama ada orang yang di dalam ilmunya seperti kedudukan raja (penguasa). Jika sedikit dari ilmunya ditolak atau diremehkan sedikit saja dari haknya maka ia marah. Itulah orang di dalam tingkat kedua dari neraka

Sebagian dari ulama ada orang yang memberikan ilmunya dan haditsnya yang asing-asing untuk orang-orang mulia dan kaya dan ia tidak melihat kepada orang yang menghajatkannya itu pantas untuk menjadi ahlinya, maka itulah (ia) di dalam tingkatan yang ketiga dari neraka.

Sebagian dari ulama ada orang yang menegakkan dirinya untuk berfatwa lalu ia memberi fatwa dengan kesalahan padahal Allah Ta’ala membenci orang-orang yang membebankan dirinya. Itulah orang yang berada di tingkat ke empat dari neraka.

Sebagian dari ulama ada orang yang berbicara dengan perkataan Yahudi dan Nasrani agar ilmunya dipandang banyak dan mengalir terus (seperti hujan deras: pent), dan itulah orang yang berada di tingkat ke lima dari neraka

Sebagian ulama ada orang yang menjadikan ilmunya sebagai keperwiraan, keutamaan dan disebut-sebut di kalangan manusia. Itulah orang yang di tingkat enam dari neraka.

Sebagian ulama ada orang yang menarik kecemerlangan dan kekaguman. Jika ia memberi nasihat maka ia kasar dan jika diberi nasihat maka ia enggan. Itulah orang yang di neraka tingkat tujuh.

Perbandingan antara orang yang mencari harta benda dunia dengan ahli ilmu yang mencari keridlaan Allah di dalam al Qur’an,

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar”. (Al Qashash:79-80)

Maka ahli ilmu mengetahui untuk mengutamakan akhirat atas dunia.

Tanda yg lain dari ulama yg baik,Perbuatannya selaras dengan perkataannya...

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah: 44)

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. As Shaaf: 3)

Sabda baginda Nabi saw: “Pada malam saya diperjalankan di malam hari, saya melewati suatu kaum yang bibirnya digunting dengan gunting dari api. Lalu saya bertanya: “Siapakah kamu sekalian ?”. Mereka menjawab: “Kami adalah dahulu memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami melarang kemungkaran namun kami melakukannya”. [HR. Ibnu Hibban]

Asy Sya’bi berkata: “Pada hari Kiyamat suatu kaum dari penghuni syurga menampakkan kepada suatu kaum dari penghuni neraka. Mereka bertanya kepada suatu kaum dari neraka itu: “Apakah yang menjadikan kamu masuk neraka? Kami dimasukkan oleh Allah ke syurga hanya karena keutamaan pendidikan dan ajaranmu?”. Suatu kaum dari neraka itu menjawab: “sesungguhnya dahulu kami memerintahkan kebaikan namun kami tidak melaksanakannya, dan kami mencegah dari keburukan namun kami menjalankannya”.

Hatim al Asham rahimahullah berkata: “Pada hari Kiyamat tidak ada orang yang paling menyesal dari pada seseorang yang mengajarkan ilmu kepada manusia lalu mereka mengamalkannya sedangkan ia tidak mengamalkannya. Mereka beruntung dengan sebab pengamalan itu, sedang ia binasa”.

Ibnu Mas’ud berkata: “Akan datang suatu masa pada manusia di mana kemanisan hati dirasakan asin. Maka pada hari itu orang ‘alim dan orang yang belajar tidak mengamalkan ilmunya. Hati Ulama mereka seperti tanah kosong yang bergaram yang turun tetesan hujan, maka tidak didapatkan air tawar dari padanya. Demikian itu apabila hati ulama cinta kepada dunia dan mengutamakannya atas akhirat. Ketika itu Allah Ta’ala mencabut sumber-sumber hikmah dan memadamkan pelita-pelita petunjuk dari hati mereka. Orang ‘alim mereka memberitahukan ketika kamu bertemu dengannya bahwasanya ia takut kepada Allah dengan lidahnya sedangkan perbuatan dosa amalnya. Maka alangkah suburnya lidah dan gersangnya hati dewasa itu. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, hal itu tidak lain karena orang-orang yang mengajar itu mengajar karena selain Allah Ta’ala, sedangkan orang-orang yang belajar itu belajar bukan karena Allah Ta’ala”.

Ka’ab rahimahullah berkata: “Di akhir zaman akan ada ulama yang menyuruh manusia untuk zuhud terhadap dunia, namun mereka tidak zuhud, mereka menyuruh manusia takut (kepada Allah) namun mereka tidak takut, mereka melarang dari mendatangi para penguasa namun mereka mendatangi para penguasa, mereka mengutamakan dunia atas akhirat, mereka makan dengan lidah mereka, mereka mendekati orang-orang kaya, tidak kepada orang-orang miskin. Mereka cemburu kepada ilmu sebagaimana orang-orang wanita cemburu kepada orang-orang laki-laki. Salah Seorang di antara mereka marah kepada teman duduknya apabila teman duduknya itu duduk-duduk dengan orang lain. Mereka itulah orang-orang yang tukang paksa, musuh-musuh Tuhan Yang Maha Pengasih”.

Saudaraku...
Ulama yg baik,Perhatiannya adalah untuk memperoleh ilmu yang bermanfa’at di akhirat, yang menggemarkan untuk taat.

Baginda Nabi saw bersabda: “Sebagian dari yang saya takutkan atas ummatku adalah tergelincirnya orang ‘alim dan perdebatan orang munafik mengenai Al Qur’an”. [HR. Ath Thabrani dan ibn Hibban]

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, namun ilmu itu adalah takut (kepada Allah)”.

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Al Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Maka mempelajarinya ambil pengamalannya. Akan datang suatu kaum yang terdidik itu seperti saluran. Mereka bukan orang-orang pilihanmu. Orang ‘alim yang tidak mengamalkan adalah seperti orang sakit yang menyifati obat, dan seperti orang lapar yang menyifati makanan-makanan yang lezat-lezat namun ia tidak mendapatkannya”.

Perumpamaan orang yang berpaling dari ilmu amal dan sibuk dengan perdebatan adalah seperti seseorang yang sakit dengan banyak penyakit padanya. Ia bertemu dengan seorang dokter yang pandai untuk waktu yang singkat yang dikhawatirkan kehabisan waktu. Orang yang sakit itu justru sibuk dengan menanyakan khasiat obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan, obat-obat lain dan hal-hal yang ganjil-ganjil dari dunia kedokteran; ia tinggalkan kepentingannya untuk mengobati penyakitnya. Ini adalah kebodohan.

Ulama yg baik juga tidak cenderung kepada kemewahan,dan ia menjauh dari para penguasa.

Bahkan seyogya untuk menjaga diri dari bergaul dengan mereka, meskipun para sultan (penguasa) itu datang kepadanya karena dunia itu manis dan hijau, kendalinya di tangan para sultan. Sedangkan bergaul dengan mereka tidak lepas dari membebankan diri untuk mencari keridhaan mereka dan mencari kesenangan hati mereka pada hal mereka zhalim.

Secara garis besar, bergaul dengan mereka (penguasa) itu adalah kunci keburukan, sedangkan jalan ulama akhirat adalah berhati-hati.

Hudzaifah berkata : “Takutlah kamu terhadap tempat-tempat fitnah”. Ditanyakan : “Apakah itu?”. Ia berkata : Pintu-pintu para amir (penguasa) di mana salah seorang di antaramu masuk kepada amir lalu ia membenarkannya dalam kebohongan, dan ia berkata padanya dengan sesuatu yang tidak ada padanya”.

Rasulullah saw bersabda, “Seburuk-buruk ulama adalah orong-orang yang datang kepada amir-amir, sedangkan sebaik-baik amir adalah orang-orang yang datang kepada para ulama. [H.R. Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah]

Ulama yg baik juga tidak segera memberi fatwa...

Jika ia ditanya tentang sesuatu yang diketahuinya secara yakin dengan nash Kitabullah (Al Qur’an) atau nash hadits atau ijma’ atau qiyas maka barulah ia memberi fatwa.

Dan jika ia ditanya tentang sesuatu yang ia ragu padanya maka ia berkata : “Saya tidak tahu”. Dan jika ia ditanya tentang sesuatu yang diduganya dengan ijtihad dan dugaan maka ia berhati-hati dan ia membela dirinya dan ia pindahkan kepada orang lain yang lebih mempunyai kekayaan ilmu.

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Sesungguhnya orang yang memberi fatwa kepada manusia pada setiap apayang mereka mintakan fatwa adalah orang gila”.

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata : “Tidak ada sesuatu yang lebih berat atas syaithan dari pada orang ‘alim yang berkata dengan ilmu dan diam dengan ilmu. Syaithan berkata : “Lihatlah orang ini. Diamnya lebih berat atasku dari pada berbicaranya”.

Abu Hafsh An Naisaburi berkata : “Orang ‘alim adalah orang yang ketika ditanya takut untuk dikatakan (ditanyakan) pada hari Kiyamat dari manakah kamu menjawab ?’.

Kesibukan para shahabat dan tabi’in ra. itu pada lima macam, yaitu : membaca Al Qur’an, meramaikan masjid, dzikir kepada Allah Ta’ala, amar ma’ruf (memerintahkan kebajikan) dan nahi mungkar (melarang perbuatan/perkataan yang buruk). Demikian itu karena mereka mendengar dari sabda Rasulullah SAW.

“Setiap perkataan anak Adam itu memadharatkannya, tidak menguntungkannya kecuali tiga macam yaitu amar ma’ruf, nahi mungkar dan dzikir kepada Allah Ta’ala”.[H.R. At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Ummu Habibah]

Ulama yg baik juga Lebih banyak perhatiannya kepada ilmu batin, mengawasi hati, mengenal dan menempuh jalan akhirat.

Ia membenarkan harapan tentang terbukanya hal itu dari mujahadah (berjuang melawan hawa nafsu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah) dan muraqabah (mengawasi hati).

Sesungguhnya mujahadah itu menyampaikan kepada musyahadah (menyaksikan ke Maha Besaran Allah Ta’ala) dan detail-detail ilmu hati yang dengannya terpancarlah sumber-sumber hikmah dari hati.

Kitab-kitab dan pengajaran lahiriah saja tidaklah memenuhi hal itu. Hikmah hanya terbuka dengan mujahadah, muraqabah (pengawasan), langsung amal-amal lahir dan batin, duduk bersama Allah’Azza Wa Jalla dalam khalwat dengan hadirnya hati dengan pikiran yang jernih, dan memutuskan diri dari selain Allah Ta’ala menuju kepadaNya.

Inilah kunci ilham dan sumber keterbukaan. Berapa banyak orang yang belajar yang lama belajarnya dan tidak mampu untuk melampaui apa yang didengarnya. Dan ada orang yang membatasi diri pada apa yang penting dalam belajar, menyempurnakan amal, dan mengawasi hati maka Allah membukakan baginya dari hikmah yang lembut-lembut, sesuatu yang akal-akal orang yang berfikir itu bingung padanya.

Nabi SAW. bersabda : “Barangsiapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui maka Allah memberinya ilmu apa yang tidak ia ketahui.[H.R. Abu Na'im dari hadits Anas dan ia melemahkannya]

Nabi SAW. bersabda dalam hadits Qudsi “Senantiasalah hamba itu mendekatkan diri kepadaKu sehingga Aku menyintainya. Apabila Aku menyintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang mana ia mendengar dengannya”.

Wahai saudaraku...
Ketahuilah secara yakin bahwa orang yang paling ‘alim dari zaman ini, dan orang yang paling dekat dengan kebenaran adalah orang yang paling mengenal shahabat dan orang yang paling mengetahui jalan ulama salaf. Maka dari mereka (orang-orang ini) lah pengambilan agama itu.

Al Hasan berkata : “Dua orang yang mengada-adakan dalam Islam, yaitu seseorang yang mempunyai pendapat yang buruk di mana ia menduga bahwa syurga itu bagi orang yang berpendapat seperti pendapatnya; dan seseorang yang bermewah-mewah dan menyembah dunia, ia marah karenanya, ridha karenanya dan ia menuntutnya; maka tolaklah (lemparkanlah) keduanya ke neraka”.

“Hanya dua hal yaitu perkataan dan petunjuk. Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah Ta’ala dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW. Ketahuilah, takutlah kamu terhadap hal-hal yang diada-adakan, karena seburuk urusan/hal adalah yang diada-adakan. Sesungguhnya setiap hal yang diada-adakan itu bid’ah, dan sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat. Ketahuilah, janganlah kamu memperpanjang tujuan (dunia) maka akan menyebabkan hatimu keras. Ketahuilah setiap apa yang akan datang itu adalah dekat. Ketahuilah bahwa yang jauh adalah sesuatu yang tidak datang”.[ibn Majah]

Ibnu Mas’ud ra. berkata : “Petunjuk yang baik di akhir masa adalah lebih baik dari pada banyaknya amal”.

Hudzaifah ra berkata : “Lebih mengherankan dari pada ini adalah perbuatan baikmu dewasa ini adalah kemungkaran pada masa yang telah lalu. Dan bahwasanya kemungkaranmu dewasa ini adalah perbuatan baik pada masa yang telah lalu.

Ia (Hudzaifah) telah benar karena sesungguhnya sebagian besar kebaikan-kebaikan masa ini adalah kemungkaran pada masa shahabat ra. Karena termasuk tipuan kebaikan pada masa kita ini adalah menghiasai masjid-masjid, membelanjakan harta benda yang banyak untuk mengerjakan bagian kecil-kecii dari bangunannya, menghamparkan permadani yang tebal padanya pada hal menghamparkan permadani di dalamnya terhitung bid’ah.

Demikian juga sibuk dengan perdebatan dan berdiskusi masalah-masalah yang pelik itu termasuk ilmu orang masa kini yang paling mulia, dan mereka menduga bahwasanya itu termasuk sebesar-besar pendekatan diri kepada Allah; padahal itu termasuk kemungkaran.

Benarlah Ibnu Mas’ud ra dimana ia berkata : “Kamu dewasa ini di masa hawa nafsu itu mengikuti ilmu, dan akan datang kepadamu masa di mana ilmu itu mengikuti hawa nafsu”.

Ahmad ibn Hambal berkata : “Mereka meninggalkan ilmu dan mereka menghadapkan diri padahal-hal yang asing. Alangkah sedikitnya ilmu di kalangan mereka, dan Allah-lah Dzat Yang dimintai pertolongan”.

Malik bin Anas rahimahullah berkata : “orang-orang pada masa yang lalu itu tidak menanyakan tentang urusan-urusan ini sebagaimana orang-orang sekarang bertanya. Dan ulama tidaklah mengatakan ‘halal dan haram’ tetapi saya mendapatkan mereka mengatakan ‘mustahab (sunnat) dan makruh;. Pengertiannya adalah bahwasanya mereka memandang mengenai makruh dan sunnat yang kecil-kecil. Ada pun haram maka kekejiannya jelas.

Semoga bermanfaat buatku dan buatmu saudaraku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar