BUAT APA SUSAH.....SUSAH ITU TAK ADA GUNANYA
Refleksi Perjalanan Menunaikan Amanah
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alahiwassalam
bersabda “Tunaikanlah amanat kepada orang yang telah memberikan amanat
kepadamu, dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang
mengkhianatimu” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dari Abu Qawud dan Tirmidzi dan di shahihkan oleh Abu Umamah, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu’alahiwassalam bersabda, “Ariyah (pinjaman) adalah barang yang wajib dikembalikan”
Saudaraku yang dirahmati Allah subhanahuwata’ala
Jika kita ingin menghitung-hitung setiap kenikmatan yang telah
diberikan oleh Allah subhanahuwata’ala tentunya tidak akan pernah cukup
waktu kita untuk menghitunganya. Hal ini tentulah disebabkan karena
telah begitu banyaknya nikmat yang telah Allah subhanahuwata’ala berikan
bahkan ketika kita sedang tertidur.
Kehidupan kita sebagai
manusia tidaklah semuanya berjalan dengan sesuai kehendak kita.
Terkadang kita di atas dan terkadang kita di bawah. Kemudian bagaimana
langkah kita dalam menyikapinya sehingga posisi apapun yang kita
dapatkan kita tetap menjadi hamba yang bersyukur.
Tak sedikit
orang yang selalu merasa hidupnya selalu dalam kepayahan, dalam
kesusahan. Tapi tak jarang pula justru orang-orang yang merasakan hal
ini adalah orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan gelimang kemewahan.
Setiap insan mempunyai amanah. Amanah terhadap dirinya, amanah terhadap
keluarganya, amanah terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya.
Tentunya ketika kita telah menyadari setiap amanah yang kita miliki maka
hal tersebut harus kita tunaikan agar kita terhindar dari hal-hal yang
justru bersifat dzalim.
Menunaikan amanah yang telah
diamanahkan kepada kita merupakan hal wajib yang harus di tunaikan dalam
perjalanan hidup kita. Tapi justru tak sedikit yang terlena dengan
dunia sehingga melupakan amanah-amanah yang telah ada pada dirinya.
Dunia ini dengan segala pernak-perniknya penuh dengan gelimang
kenikmatan yang sesungguhnya hanya memberikan kenikmatan sementara, tapi
justru kita terlena dalam menjalaninya. Bahkan melupakan amanah yang
nantinya justru berhubungan dengan bagaimana pertanggungjawaban kita
dengan Allah subhanahuwata’ala nantinya.
Mungkin hal ini harus
kita renungi bersama, amanah apa saja yang telah kita lalaikan dengan
mendahulukan dunia. Bahkan tak sedikit orang-orang yang kita dzalimi
ketika amanah itu tidak kita tunaikan sementara dunia berada dalam
genggaman kita. Sungguh betapa dzalimnya, bahkan mungkin saudara kita
yang sedang berharap pada kita untuk segera menunaikan amanah kita
mungkin sedang kepayahan dalam menjalani dunianya.
Tentunya
tidak ada yang ingin didzalimi dalam menjalani hidup, termasuk juga
kita. Tentunya tak ada yang tidak menginginkan dunia sebagai alat
kemudahan dalam mejalani hidup di dunia. Tapi justru kemudian kita telah
membaliknya. Harta atau dunia adalah hal yang utama sedangkan amanah
adalah yang kesekian kalinya. Dzalim kepada diri sendiri, kerabat,
bahkan pada Allah subhanahuwata’ala adalah hal yang biasa hanya untuk
mendapatkan dunia yang sementara.
Saudaraku
Sudah
saatnya kita menghitung-hitung kembali setiap amanah yang masih belum
kita tunaikan, di saat begitu banyak hal dunia yang dapat menunaikannya.
Tentunya kita berlindung kepada Allah subhanahuwata’ala dari doa
orang-orang yang telah kita dzalimi, karena doa-doa mereka tanpa hijab
ketika tangan telah di tengadahkan kepada-Nya.
Mari kita
tunaikan amanah, karena setiap kita nantinya akan dimintai pertanggung
jawaban atasnya. Dunia ini beserta isinya tidaklah membawa kesuksesan,
tapi yang membawa kesuksesan adalah ketika kita bisa menunaikan amanah
dengan sebaiknya dan tidak bersikap dzalim terhadap orang-orang yang
telah mempercayakan amanah pada diri kita.
Pada Allah subhanahuwata’ala kita memohon ampun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar