PENYAKIT SYUBHAT DAN SYAHWAT
waspadai kesesatan orang alim
BISMILLAH....
Syaithan merupakan musuh nyata manusia. Dia selalu berusaha
menjerumuskan manusia kedalam jurang kekafiran, kesesatan dan
kemaksiatan. Di dalam menjalankan aksinya itu syaithan memiliki dua
senjata ampuh yang telah banyak makan korban. Dua senjata itu adalah
syubhat dan syahwat. Dua penyakit yang menyerang hati manusia dan merusakkan perilakunya.
Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Penyakit syubhat yang
menimpa hati seseorang akan merusakkan ilmu dan keyakinannya. Sehingga
jadilah “perkara ma’ruf menjadi samar dengan kemungkaran, maka orang
tersebut tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran.
Bahkan kemungkinan penyakit ini menguasainya sampai dia menyakini yang
ma’ruf sebagai kemungkaran, yang mungkar sebagai yang ma’ruf, yang
sunnah sebagai bid’ah, yang bid’ah sebagai sunnah, al-haq sebagai
kebatilan, dan yang batil sebagai al-haq”. [Tazkiyatun Nufus, hal: 31,
DR. Ahmad Farid]
Penyakit syubhat ini misalnya: keraguan, kemunafikan, bid’ah, kekafiran, dan kesesatan lainnya.
Syahwat artinya selera, nafsu, keinginan, atau kecintaan. Sedangkan
fitnah syahwat (penyakit mengikuti syahwat) adalah mengikuti apa-apa
yang disenangi oleh hati/nafsu yang keluar dari batasan syari’at.
Fitnah syahwat ini akan menyebabkan kerusakan niat, kehendak, dan perbuatan orang yang tertimpa penyakit ini.
Penyakit syahwat ini misalnya: rakus terhadap harta, tamak terhadap
kekuasaan, ingin populer, mencari pujian, suka perkara-perkara keji,
zina, dan berbagai kemaksiatan lainnya.
KEKHAWATIRAN RASULULLAH TERHADAP PENYAKIT SYUBHAT DAN SYAHWAT
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah
(kesesatan) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ
Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat
mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta
fitnah-fitnah yang menyesatkan. [HR. Ahmad dari Abu Barzah Al-Aslami.
Dishahihkan oleh Syaikh Badrul Badr di dalam ta’liq Kasyful Kurbah, hal:
21]
Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan adalah fitnah
syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.
Kedua fitnah ini sesungguhnya juga telah menimpa orang-orang zaman dahulu dan telah membinasakan mereka. Allah berfirman.
كَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ
أَمْوَالاً وَأَوْلاَدًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاَقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُم
بِخَلاَقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلاَقِهِمْ
وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أَوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي
الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
(Keadaan kamu hai orang-oang munafik dan musyirikin adalah) seperti
keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan
lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka
telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah nikmati bagianmu
sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagian mereka, dan kamu
mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya.
Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan
mereka itulah orang-orang yang merugi. [At Taibah :69]
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Allah menggabungkan antara
“menikmati bagian” dengan “mempercakapkan (hal yang batil)”, karena
kerusakan agama itu kemungkinan:
• terjadi pada keyakinan yang batil dan mempercakapkannya (hal yang batil)
• atau terjadi pada amalan yang menyelisihi i’tiqad yang haq.
Yang pertama adalah bid’ah-bid’ah dan semacamnya. Yang kedua adalah
amalan-amalan yang fasiq. Yang pertama dari sisi syubhat-syubhat. Yang
kedua dari sisi syahwat-syahwat.
Oleh karena itulah Salafush
Shalih dahulu menyatakan: “Waspadalah kamu dari dua jenis manusia:
Pengikut hawa-nafsu yang telah disesatkan oleh hawa-nafsunya (inilah
fitnah syubhat-pen), pemburu dunia yang telah dibutakan oleh dunianya
(ini fitnah syahwat-pen)”.
Mereka juga menyatakan: “Waspadailah
kesesatan orang ‘alim (ahli ilmu) yang durhaka (karena terkena fitnah
syahwat-pen), dan kesesatan ‘abid (ahli ibadah) yang bodoh (karena
terkena fitnah syubhat-pen), karena kesesatan keduanya itu merupakan
kesesatan tiap-tiap orang yang tersesat.”
Maka yang itu (orang
‘alim yang durhaka) menyerupai (orang-orang Yahudi) yang dimurkai,
orang-orang yang mengetahui al-haq, tetapi tidak mengikutinya. Sedangkan
yang ini (‘abid yang bodoh) menyerupai (orang-orang Nashara) yang
sesat, orang-orang yang beramal tanpa ilmu.” [Iqtidha’ Shirathil
Mustaqim, hal: 55, tahqiq Syaikh Khalid Abdul Lathif As-Sab’ Al-‘Alami]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata: “Firman Allah
Azza wa Jalla : “kamu telah nikmati bagianmu” mengisyaratkan pada
mengikuti hawa-nafsu syahwat, ini merupakan penyakit para pelaku
maksiat. Dan firman Allah: “Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil)
sebagaimana mereka mempercakapkannya” mengisyaratkan pada mengikuti
syubhat-syubhat, ini merupakan penyakit para pelaku bid’ah, pengikut
hawa-nafsu, dan perdebatan-perdebatan. Dan sangat sering keduanya
(penyakit itu) berkumpul. Maka jarang engkau dapati orang yang aqidahnya
ada kerusakan, kecuali hal itu nampak pada lahiriyahnya.” [Iqtidha’
Shirathil Mustaqim, hal: 55]
JENIS-JENIS FITNAH SYUBHAT
1.
Di antara fitnah syubhat terbesar adalah kekafiran. Karena sesungguhnya
orang-orang kafir itu berada di dalam kesesatan tetapi mereka menyangka
berada di atas kebenaran dan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً {103} الَّذِينَ
ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ
يُحْسِنُونَ صُنْعًا {104} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ
رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالَهُمْ فَلاَنُقِيمُ لَهُمْ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا {105}
Katakanlah:"Apakah akan Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya". Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat
Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah
amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi
(amalan) mereka pada hari kiamat. [Al Kahfi : 103 - 105]
Lihatlah orang-orang kafir tersebut! Amalan mereka terhapus dan sia-sia,
tetapi mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya!! Alangkah ruginya
mereka!!!
2. Di antara fitnah syubhat yang tak kalah dahsyat adalah kemunafikan.
Simaklah firman Allah Azza wa Jalla.
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذّابٌ
أَلِيمُ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ {10} وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ
تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ {11}
Dalam hati mereka (orang-orang munafik) ada penyakit (syubhat;
keraguan), lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka siksa yang
pedih disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka,
"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi," mereka menjawab,
"Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." [Al Baqarah :
10-11]
Perhatikanlah orang-orang munafik ini, mereka nyata-nyata berbuat kerusakan, tetapi mereka menyangka mengadakan perbaikan!
3. Di antara bentuk fitnah syubhat yang lain adalah fitnah bid’ah dan
mengikuti hawa-nafsu. Fitnah ini menyebabkan umat terpecah-belah menjadi
kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.
Imam Ibnu Rajab
Al-Hambali rahimahullah berkata: “Adapun fitnah syubuhat
(syubhat-syubhat), maka telah diriwayatkan dari Nabi dengan banyak jalan
bahwa umat beliau akan berpecah-belah menjadi lebih dari 70 kelompok,
sesuai dengan perbedaan riwayat-riwayat jumlah kelebihan dari 70 (yang
shahih dan terpilih 73 kelompok-pen), dan bahwa seluruh kelompok
tersebut di dalam neraka kecuali satu saja, yaitu kelompok yang berada
di atas apa yang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para
sahabatnya ada padanya”. [Kasyful Kurbah, hal: 19]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى
ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ
عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ
فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ زَادَ ابْنُ يَحْيَى وَعَمْرٌو فِي
حَدِيثَيْهِمَا وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى
بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ لِصَاحِبِهِ
وَقَالَ عَمْرٌو الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا
مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ
Ketahuilah, sesungguhnya Ahlul Kitab
sebelum kamu telah berpecah-belah menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya
agama ini (Islam) akan berpecah-belah menjadi 73 agama. 72 di dalam
neraka, dan sati di dalam sorga, yaitu Al-Jama’ah. (Di dalam hadits Ibnu
‘Amr dan Yahya ada tambahan:) Dan sesungguhnya akan muncul beberapa
kaum dari kalangan umatku yang hawa-nafsu menjalar pada mereka
sebagaimana virus rabies menjalar pada tubuh penderitanya. Tidak tersisa
satu urat dan persendian kecuali sudah dijalarinya. [HR. Abu Dawud,
Ahmad, Darimi, Ibnu Abi Ashim. Al-Hakim, dan lainnya. Dishahihkan oleh
Al-Hakim, disetujui Adz-Dzahabi, juga Syeikh Al-Albani di dalam Dzilalul
Jannah I/7]
Perhatikanlah firqah-firqah yang ada di kalangan
umat Islam ini, mereka semua mengaku di atas al-haq, sedangkan mereka
saling menyatakan sesat terhadap kelompok yang lain. Alangkah besarnya
syubhat yang ditanamkan syaithan ini!
JENIS-JENIS FITNAH SYAHWAT
Macam-macam fitnah syahwat ini sumbernya terangkum dalam “kenikmatan
kehidupan dunia” sebagaimana Allah Azza wa Jalla firmankan:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ
وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ
الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ {14}
Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang
baik (surga). [Ali Imran :14]
Maka di antara fitnah syahwat adalah:
a). Fitnah Wanita.
Inilah fitnah pertama dan terbesar serta paling berbahaya bagi
laki-laki! Rasulullah sudah memperingatkan hal ini di dalam sabda
beliau:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebioh
berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita. [HR. Bukhari no: 5096,
Muslim no: 2740, dan lainnya, dari Usamah bin Zaid]
Al-Hafizh
Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan:
“Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan
fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Allah:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita…” (Ali-Imran:14), yang Allah menjadikan
wanita termasuk “hubbu syahawat” (kecintaan perkara-perkara yang
diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis yang
lain sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan pokok hal itu”.
[Fathul Bari]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kebanyakan
yang merusakkan kekuasaan dan negara adalah mentaati para wanita”.
[Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 257]
Karena fitnah wanita,
seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan karenanya.
Seperti: memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya,
berpacaran, bahkan sampai berbuat zina!
Demikian juga banyak
pemuda atau orang tua yang menyimpan foto-foto wanita kekasihnya, atau
artis film, penyanyi, dan lainnya, yang menyebabkan hatinya menjadi
sakit, atau bahkan mati, karena dikuasai bayang-bayang wanita pujaannya
itu!
Termasuk fitnah ini adalah laki-laki yang mentaati istri
untuk memuaskan kesenangannya di dalam bersolek, berhias, dan
bersenang-senang, sehingga berusaha mendapatkan harta berbagai cara,
baik halal atau haram!
Atau mencintai istri secara berlebihan
sehingga lebih mengutamakannya dari siapapun bahkan orang-tuanya! Atau
bahkan lebih mantaati istri daripada mentaati Allah dan Rasul-Nya!!
Sehingga suami lebih memilih menemani istrinya daripada melaksanakan
ketaatan, baik, shalat berjama’ah di masjid, berjihad fi sabililah dan
lainnya.
Demikian juga digunakannya wanita sebagai media iklan,
atau pelicin untuk meraih jabatan, kepuasan atasan, dan tujuan duniawi
lainnya.
Wanita yang menggunakan daya-tariknya atau bahkan
menjual tubuhnya untuk mendapatkan harta. Semua itu merupakan fitnah
berbahaya yang ditimbulkan wanita.
b). Fitnah Anak.
Allah mengingatkan fitnah anak ini di dalam firmanNya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ
وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا
وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ
{15}
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara
isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak
memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu
hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At
Taghaabun: 14-15]
c). Di antara fitnah syahwat adalah saling
berlomba meraih dunia dan rakus terhadap harta sehingga menimbulkan iri,
dengki, hasad dan saling menjauhi antar umat. Hal itu disebabkan
dibukanya kemakmuran dan kemewahan hidup oleh Allah Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ
قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرَ
ذَلِكَ تَتَنَافَسُونَ ثُمَّ تَتَحَاسَدُونَ ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ ثُمَّ
تَتَبَاغَضُونَ أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ
الْمُهَاجِرِينَ فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ
Jika Persia dan Romawi dibukakan pada kamu, menjadi kaum yang mana kamu
nanti? Abdurrahaman bin ‘Auf berkata: “Kami akan berkata sebagaimana
yang diperintahkan Allah dan Rasulullah. (Beliau berkata): “Atau (kamu
akan melakukan) selain itu, kamu akan saling berlomba (meraih dunia),
kemudian kamu akan saling hasad, kemudian kamu akan saling menjauhi,
kemudian kamu akan saling membenci, atau semacamnya, kemudian kamu akan
berangkat ke rumah-rumah orang-orang muhajirin, lalu sebagian kamu
memukul leher sebagian yang lain. [HR. Muslim, Ibnu Majah, dan lainnya
dari Abdulah bin Amr bin Al-Ash]
Dalam hadits lain beliau bersabda:
فَوَاللَّهِ لَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى
عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ
كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ
كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku
khawatirkan atas kamu. Tetapi aku khawatir atas kamu jika dunia
dihamparkan atas kamu sebagaimana telah dihamparkan atas orang-orang
sebelum kamu, kemudian kamu akan saling berlomba (meraih dunia)
sebagaimana mereka saling berlomba (meraih dunia), kemudian dunia itu
akan membinasakan kamu, sebagaimana telah membinasakan mereka.” [HR.
Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lainnya dari Amr bin Auf Al-Anshari]
d). Tamak Terhadap Asy-Syaraf (kemuliaan, kedudukan, kehormatan,
gengsi). Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitakan tentang
bahaya tamak terhadap asy-syaraf dengan sabdanya:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
Tidaklah dua srigala lapar yang dilepas pada seekor kambing lebih
merusakkannya daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kehormatan
(yang merusakkan) agamanya. [HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Hibban dari Ka’b
bin Malik Al-Anshari. Dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di
dalam Shuwar Minal Fitan, hal: 38]
BENTENG FITNAH SYUBHAT DAN SYAHWAT
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Asal seluruh fitnah
(kesesatan) hanyalah dari sebab: mendahulukan fikiran terhadap syara’
(agama) dan mendahulukan hawa-nafsu terhadap akal.
Yang pertama
adalah asal fitnah syubhat, yang kedua adalah asal fitnah syahwat.
Fitnah syubhat-syubhat ditolak dengan keyakinan, adapun fitnah syahwat
ditolak dengan kesabaran. Oleh karena itulah Alloh menjadikan
kepemimpinan agama tergantung dengan dua perkara ini.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) itu pemimpin-pemimpin
yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan
adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. [As Sajdah:24]
Ini
menunjukkan bahwa dengan kesabaran dan keyakinan akan dapat diraih
kepemimpinan dalam agama. Alloh juga menggabungkan dua hal itu di dalam
firmanNya:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }
Dan mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran. [Al Hasr :3]
Maka mereka saling menasehati supaya mentaati kebenaran yang menolak
syubhat-syubhat, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran yang
menghentikan syahwat-syahwat.
Allah juga menggabungkan antara keduanya di dalam firmanNya:
وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya'qub yang mempunyai
perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. [Ash Shaaffat
:45]
Maka dengan kesempurnaan akal dan kesabaran, fitnah
syahwat akan ditolak. Dan dengan kesempurnaan ilmu dan keyakinan, fitnah
syubhat akan ditolak [Mawaridul
Amaan, hal: 414-415]
Wallahul Musta’an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar